masyarakat daya asri resah bau menyengat dari pengepul karet membuat mual .
- KSN Tubaba ·– Sejumlah warga mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari limbah aktivitas lapak karet di RT 07/RK 02, Tiyuh Daya Asri, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba).
Keluhan tersebut mencuat karena warga menilai bau limbah telah mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar. Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, limbah dari aktivitas lapak karet tersebut diduga dialirkan ke arah siring utama.
” sumpah mas tiap hari hidung kami sesak oleh bau menyengat dan membuat perut kami mual mual oleh bau karet dari tetangga kami pak Supri ini.” ujar salah satu warga disekitar yang meminta namanya jangan di sebutkan di media .
Menurutnya, persoalan itu bukan kali pertama dikeluhkan masyarakat. Warga disebut pernah menyampaikan keberatan kepada aparatur Tiyuh Daya Asri dan bahkan telah melakukan pertemuan dengan pemilik lapak karet, Supri.
” yang lucu ya kok mereka yang mendapat cuan dari usaha pembeli karet kami warga yang disuruh Carikan lokasi bila kami komplin dengan bau menyengat dari limbah karet itu”
“Intinya Pak Supri itu minta kami carikan tanah yang bisa dibeli atau disewa kalau mau pindah tempat nimbang karet,” kata warga saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (25/8/2026).
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat dapat turun tangan untuk membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Pasalnya, meski pengaduan telah disampaikan kepada aparatur tiyuh, hingga kini warga menilai belum ada solusi yang memberikan kepastian.
“Saya sangat berharap persoalan ini bisa selesai dan masyarakat bisa aman dan tentram,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik lapak karet, Supri, membantah tudingan bahwa limbah dari aktivitas usahanya dibuang ke siring. Ia mengklaim limbah tersebut ditampung di dalam kolam dan dilakukan pembuangan secara rutin.
Menurut Supri, saat ini aktivitas pengolahan karet juga tidak terlalu tinggi karena musim kemarau menyebabkan hasil karet dari petani yang masuk ke lapaknya berkurang.
Terkait legalitas usaha, Supri mengaku telah memiliki izin usaha. Namun, saat dikonfirmasi, ia belum dapat menunjukkan dokumen perizinan tersebut.
Sedangkan mengenai persetujuan atau izin lingkungan, Supri mengaku proses pengurusannya masih berjalan.
“Lagi diurus anak saya waktu itu. Kalau izin usaha itu sama anak saya. Itu usahanya di Tiyuh Gunung Timbul,” kata Supri yang saat itu didampingi istrinya.
Terpisah, Kepalo Tiyuh Daya Asri, Alif, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima pengaduan dari masyarakat terkait persoalan tersebut.
Ia mengatakan, persoalan itu sempat dibicarakan bersama pemilik lapak. Namun, hingga kini belum ditemukan titik temu karena pemilik usaha meminta agar masyarakat membantu mencarikan lokasi atau lahan lain apabila usaha tersebut harus dipindahkan.
Keluhan warga ini pun menjadi perhatian, mengingat aktivitas usaha yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan diharapkan dapat memiliki pengelolaan limbah dan dokumen lingkungan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Warga kini berharap pemerintah daerah dapat melakukan penelusuran dan mengambil langkah untuk memastikan persoalan limbah tersebut dapat ditangani, tanpa mengabaikan kenyamanan masyarakat maupun keberlangsungan usaha.
sementara Kepala dinas lingkungan hidup kabupaten tulang bawang barat saat dikompirmasi melalui hempon seluler dengan nomor kontak 08xxxxxx berjanji. akan segera menelusuri keresahan warga daya asri akibat bau menyengat ini
” besok akan kami turunkan team untuk memeriksa lapak karet tersebut ” ujar Iwan singkat (Ishak)






